Tomorrow, When The War Began

Tomorrow, When The War Began, the winner of the Australian Multicultural Children’s Book Award, is a novel by John Marsden. In the book, seven teenagers are away from their houses, when their homes are invaded by another country’s army. When they come back to their homes, everything is gone. The book constantly emphasizes how if you can be resilient through bad times, you will grow stronger. Though in the book the ‘bad time’ is war, this affects all ‘bad times’ from something as extreme as war, to something like you getting sick. Some people go through those times well, others cannot. Both of those situations are shown in Tomorrow, When The War Began.

Someone’s personality can change for the better when he is faced with bad times. Homer Yannos, one of the main characters, used to be someone who was in a gang, and was silly and wild and not trusted. Others began to see how his personality was changing, and commented on it. As his friend Ellie says about him, “It was getting hard to remember that this fast-thinking guy, who’d just spent fifteen minutes getting us laughing and talking and feeling good again, wasn’t even trusted to hand out books at school.”(pg 104). He went from someone who went around town graffitiing walls to someone who led, and led well. He is not shocked when faced with a decision he has to make instantly. After one of his best friends is shot, he immediately goes into action. “‘We’ll have to take her into town.’ Homer said. ‘We know the hospital’s still functioning. We’ll have to trust them to look after her. There’s no other choice.’”(pg. 280). He made the decision to give her to invaders because they had medical equipment, even though she would most likely be a prisoner for a while. This decision preserved his friends life for longer than it would have if they had not, proving his ability to act, even lead, under pressure.

Personality isn’t the only thing that can change, as others are faced with their fears when bad times come, and some can overcome those fears. Robyn Mathers is an example of that. She used to be scared of everything, even tiny things like injections. “Mr. Kasser had announced the girls would be having rubella injections. As soon as he’d mentioned the word injections, Robyn had been on the floor, [fainted].”(pg. 129). Now she was going into places with gunfire and firefights, going into danger, and dealing with it. When a friend of hers gets injured, she risks a lot in order to get help. Having one of her friends injured by a bullet, unable to walk, forced her to adapt. She used all her resources available, finding the people she needed to find, and she learned what she needed to learn, even if she was scared of what she had to do to achieve that. She faces her fears bravely, and afterward, she says: “[Mr. Clement] taught me how to give injections… I gave [Lee] two injections today. It was cool fun.”(pg. 134-5). No longer there was her fear of injections. She had not given up when faced with the task of having to heal a bullet wound, and through that she had overcome a fear.

Of course, not everybody can make the best of the bad times that will come to them. Ellie Linton did not. Though she is still alive at this point of the war, she’s paid a price. She is constantly debating every action that she has done in the war with herself. “The thing that scared me most was the thought that maybe all the violent things I’d been doing, with the ride-on mower and the truck, had transformed me in the space of a couple nights into a raging monster.” (pg.161). She let these types of thoughts take over her mind from time to time, and when they did, her emotions would explode. She would also have nightmares that sprung from those thoughts. “I had the nightmares… I felt skulls crush under my feet. Burning bodies stretched out their hands, begging for mercy. I killed everyone, even the people I loved most… I was a devil of death, and there were no angels left in the world, no one to make me feel better or to save me from the harm I was doing.”(pg. 163) She let the bad times consume her, and was came out weaker than she had been before the war.

Tomorrow, When The War Began outlines how bad times can improve you as a person or make you depressed. Even if the story is fiction, the message the author, John Marsden, is trying to send, isn’t. Though the war is the situation in the book, bad times not as extreme as war can happen to anybody. In fact, they happen to nearly everybody. If when you face bad times, you deal with them the best you can and move on, you will have gained something from the experience.

Author : Jeremy K Ginting

ROAD SHOW Parenting RPI dan Majalah Mom Dad & I

IMG-20141028-01266  IMG-20141028-WA0001

SD UIN Madrasah Pembangunan, Fasilitator Ibu Kristi & Ibu Dian, 28 Okt 2014

IMG_0690  IMG-20141103-01280

SDN 01 Kemanggisan, Fasilitator Ibu Inda & Ibu Efi, 3 Nov 2014

photo  IMG_0697

SDS Annajah, Fasilitator Ibu Yunita Taniwangsa, 4 Nov 2014

IMG_0700  IMG_0701

SD Al Chasanah Petamburan, Fasilitator Ibu Lucy Kusman, 6 Nov 2014

IMG_0705  IMG_0709

SD BPK Penabur, Fasilitator Ibu Inda & Bp Henky, 8 Nov 2014

IMG-20141112-00278  IMG-20141112-00303

SD Global Islamic, Fasilitator Ibu Sinta & Bp Henky, 12 Nov 2014

DSC01237  photo 4

SD Kelapa Dua 06, Fasilitator Ibu Avin & Ibu Widya, 13 Nov 2014

DSC01253  photo 5(3)

SD Laboratorium Setia Budi, Fasil : Ibu Lucy, Ibu Dian & Bp Yudi, 14 Nov 2014

Sahening Dian Ardini  Paulus Triwahyudi

SD Cipinang Melayu 05, Fasilitator Ibu Dian & Bp Yudi, 18 Nov 2014

DSC01351

SD Kwitang 8, Fasilitator : Bp Henky & Ibu Emily, 20 Nov 2014

Sosialisasi Parenting di Rumah Susun DKI Jakarta

IMG-20150411-WA0019

Sosialisasi Parenting di Rusunawa Cipinang Besar Selatan, 11 April 2015

IMG-20150411-WA0004

IMG-20150411-WA0013

Tim RPI : Bp Jamal, Bp Henky, Ibu Efi, Ibu Inda, Ibu Ayu

Ibu Bening Lara, Henni, Anita

IMG_20150411_102827

Sesi Sosialisasi bersama Bp Jamaluddin Elbima

IMG_20150411_110927

Bunda Efi Juwita serius berdiskusi dengan parents

IMG_20150411_111139

Ibu Inda dan parents asyik share

IMG_20150411_110909

Ibu Ayu dan parents, semangat yaaa…

IMG-20150411-WA0011

Parents action dulu bersama Ibu Bening Lara

IMG_20150411_103201

Sesi Bermain Bersama Kakak Anita……..

Pentingnya Melatih Konsentrasi Anak di Zaman Digital

Gangguan Zaman Sekarang Lebih Banyak

Di zaman serbadigital ini, lazim kita melihat seorang anak yang asyik mengutak-atik tablet. Pemandangan ini sering kita lihat di tempat-tempat umum. Kalau dulu orang masih menganggap perangkat digital hanya bisa dipakai orang dewasa, kini anak-anak semakin mudah mengakses komputer, tablet, atau smartphone.

Lewat perangkat digital tersebut anak bisa mengasah kreativitas. Di Barat, perangkat digital semacam itu sudah umum dipakai di kelas. Anak-anak bisa belajar dengan berkolaborasi dan menggunakan koneksi internet yang memang memungkinkan sekali jika memakai perangkat tersebut. Namun, saat mengerjakan tugas secara online, anak cenderung sulit berkonsentrasi. Di lain pihak, berlatih konsentrasi itu penting. Penelitian menunjukkan bahwa jika anak tidak berlatih konsentrasi dan tidak belajar menyingkirkan gangguan (distraction), mereka akan jauh lebih sulit untuk berhasil di hampir setiap bidang.

Daniel Goleman, seorang psikolog dan pengarang banyak buku mengenai pembelajaran sosial dan emosional mengatakan bahwa di zaman digital ini manusia dihadapkan pada gangguan yang lebih banyak dibandingan masa-masa sebelumnya. Karena itu, sebetulnya kita dituntut untuk lebih mengembangkan keterampilan memusatkan perhatian. Yang justru lebih dikhawatirkan adalah anak-anak. Mengapa? Karena organ tubuh yang paling akhir matang secara anatomi adalah otak. Otak terus berkembang sampai manusia berumur pertengahan 20 tahunan. Jika sistem jaringan syaraf anak tidak berkembang, padahal hal itu sangat dibutuhkan untuk memusatkan perhatian, nantinya mereka akan menghadapi masalah dalam mengendalikan emosi dan kurang bisa berempati.

Jaringan Otak untuk Konsentrasi Perlu Dilatih

“Jaringan syaraf yang dibutuhkan untuk memusatkan perhatian identik dengan jaringan syaraf untuk mengelola emosi yang menimbulkan stres,” kata Goleman. Bagian otak yang menentukan dalam fungsi fokus dan menentukan keputusan disebut sebagai korteks prefrontal. Bagian otak ini juga memungkinkan seseorang mengendalikan diri, menguasai emosi, dan merasakan empati kepada orang lain.

“Jaringan otak yang meningkatkan daya tangkap perlu diberi latihan konsentrasi. Contohnya: membaca teks, memahami dan menyimak ucapan guru. Hal ini dibutuhkan sebagai sarana untuk menjadi seorang pembelajar,” lanjut Goleman. Dia menyarankan “puasa digital” bagi anak setiap hari, misalnya selama pukul 7 pagi sampai 5 sore anak tidak boleh memakai perangkat digital sama sekali. Baik juga jika sekolah memasukkan latihan perhatian-penuh dalam kurikulum.

Kemampuan Konsentrasi Sebagai Kunci Sukses

Kemampuan untuk bisa fokus merupakan bagian dari kunci sukses yang kerap kali diabaikan. “Semakin kita bisa berkonsentrasi, kita bisa lebih sukses dalam hal apa pun. Meskipun kita punya berbagai talenta, talenta itu tidak akan terpakai jika banyak gangguan yang membombardir kita,” kata Goleman. Dia menunjukkan bahwa suatu kali pernah dilakukan suatu riset terhadap atlet. Mereka diberi tes konsentrasi. Hasilnya secara akurat dapat memprediksi sejauh mana keberhasilan masing-masing atlet tersebut ketika tampil keesokan harinya.

Penelitian tentang konsentrasi yang terkenal adalah penelitian jangka panjang yang dilakukan terhadap 1.000 anak di Selandia Baru oleh Terrie Moffitt dan Avshalom Caspi, seorang profesor bidang psikologi dan ahli syaraf di Duke University. Penelitian itu menguji anak-anak yang lahir tahun 1972 dan 1973 secara rutin selama delapan tahun. Mereka diuji kemampuannya dalam memperhatikan dan mengabaikan distraksi. Selanjutnya para periset mengikuti jejak anak-anak tersebut sampai usia 32 tahun untuk melihat seberapa jauh keberhasilan mereka. Diketahui bahwa kemampuan mereka untuk berkonsentrasi menjadi penentu terbesar dalam kesuksesan.

“Kemampuan ini jauh lebih penting daripada IQ atau status sosial ekonomi keluarga dalam menentukan kesuksesan karier, kesuksesan finansial, dan kesehatan seseorang,” ujar Goleman.

Yang menjadi keprihatinan dan patut diwaspadai adalah kini semakin banyak anak yang tidak bisa lepas dari perangkat digital meskipun sejenak saja. Mereka seperti sudah kecanduan. Guru-guru mengatakan bahwa kini anak kesulitan memahami teks yang oleh generasi sebelumnya bisa dipahami dengan mudah. Tanda-tanda ini perlu diperhatikan oleh para pendidik. Mereka harus melatih anak agar mampu memperhatikan dan menyimak.

“Yang perlu ditekankan adalah kemampuan untuk fokus,” kata Goleman. Dia tidak menampik kegunaan perangkat digital di masyarakat zaman sekarang. Namun, dia juga menegaskan bahwa jika kita tidak mengatur penggunaan perangkat tersebut bagi anak-anak dengan lebih baik, maka anak tidak akan pernah mengasah keterampilan dalam memusatkan perhatian. Padahal keterampilan itu akan sangat mereka butuhkan dalam meraih kesuksesan jangka panjang. “Jika anak-anak bisa fokus secara alami, mereka akan lebih mampu memakai perangkat digital sebagai mana mestinya dan memakainya dengan cara yang menyenangkan.”

Kemampuan Multitugas Meningkatkan Kesuksesan?

Sebagian orang mengatakan bahwa generasi anak-anak zaman sekarang yang ketika tumbuh besar sudah akrab dengan perangkat digital lebih bagus kemampuannya dalam multitugas. Namun, gagasan tentang multitugas itu hanyalah mitos, menurut Goleman. Ketika seseorang mengatakan dirinya adalah seorang yang mampu menjalankan beberapa tugas sekaligus, sebenarnya yang terjadi adalah “terpecahnya perhatian yang berlangsung terus-menerus.” Saat itu otak bolak-balik menaruh perhatian pada tugas-tugas yang ada. Masalahnya adalah, ketika perhatian murid terpecah antara mengerjakan pekerjaan rumah dan membaca SMS, mengecek status di sosial media, atau chatting, maka kemampuan mereka untuk fokus pun menjadi berkurang. Hal itu akan sangat mempengaruhi anak untuk memahami konsep baru secara mendalam.

Pemakaian Perangkat Digital Secara Bijak

Goleman mengatakan bahwa musuh utama saat ini bukan perangkat digital. Yang perlu kita lakukan adalah memastikan bahwa generasi anak-anak saat ini memiliki kemampuan untuk berkonsentrasi dan memperhatikan suatu hal. Dua kemampuan tersebut dulu secara alami dimiliki oleh generasi sebelumnya yang belum terpapar oleh perangkat digital.

Tugas kita sebagai pendidik dan orang tua kini adalah bagaimana mengajari anak-anak memakai perangkat digital secara cerdas. Dengan begitu, anak tetap memiliki kemampuan untuk berkonsentrasi mana kala kita membutuhkan dan menginginkannya.

Tulisan ini diadaptasi dari tulisan Katrina Schwartz, “Age of Distraction: Why It’s Crucial for Students to Learn to Focus”

Seminar & Talkshow Parenting

Seminar Sekolah Ibu S

KB – TK Kinderfield 2013

Seminar JFM 21 Sept 13

JFM 21 September 2013

IMG-20140202-00785

GBKP Graha Harapan 2 Februari 2014

Ibu Andyda MDO

 Mom Dad & I 15 Juni 2014

Andyda APSAI

Asosiasi Perusahaan Sahabat Anak Indonesia 24 Juni 2014

20140806_113557

PT. Astra International Tbk

IMG-20141120-00371

 SINDO 20 November 2014

IMG_28092014_120640

 GBKP Depok 28 September 2014

Parenting Program WVI

WVI – Waingapu 12 Desember 2014

Ibu Emil

Bp Henky

Perhutani 29 Maret 2015

IMG_0835

IMG_0840

IMG_0860

GBKP Depok 12 April 2015

 Parenting Kelompok Parents, SMU – SMP, dan SD

GBKP Depok

           GBKP Depok 18 April 2015 – Sharing menghadapai UN SD & SMP

Seminar, Training, Talkshow Guru

NCTC

National Christian Teacher Conference

APSAI 19Seminar Guru di Asosiasi Perusahaan Sahabat Anak Indonesia

Seminar Guru PAUD RPI 18 Oktober 2014

Training Guru Oktober 2014

photo 5

Training Guru November 2014

DSC_0030

Training Guru Desember 2014

IMG_1969

Training Guru Januari 2015

DSC_0258

Bersama 1

Training Dasar Guru 6- 8 Februari 2015

IMG_20150327_112426

IMG_20150328_090519

DSC_0066

Kelas Meditasi bersama Bening Lara

DSC_0426

Training Dasar Guru 27 – 29 Maret 2015

Workshop Guru Sumatera Utara

Training PAUD GBKP Okt 02

Workshop Guru Sumatera Utara 22 – 25 Maret 2013

Tigapanah-20130618-00632

Workshop Guru Sumatera Utara 16 – 18 Juni 2013

Training PAUD GBKP 6 Okt 2013

Workshop Guru Sumatera Utara 4 -6 Oktober 2013

Peserta & Trainer Workshop Guru PAUD 26-28 Juni 14

Workshop Guru Sumatera Utara  26 – 28 Juni 2014

Workshop 11

Workshop Guru Sumatera Utara 19 -21 Februari 2015

 

TIPS KEAMANAN ANAK : MENGHADAPI ORANG TIDAK DIKENAL

Salah satu hal yang sangat penting untuk diajarkan kepada anak-anak adalah bagaimana menghadapi orang yang tidak dikenal. Kadang-kadang anak-anak menganggap sudah kenal dengan seseorang yang sering ditemuinya dan orang itu besikap ramah kepada mereka.

 Ajarkan anak-anak menjaga keamanan dengan tip berikut ini:

  • Walaupun kamu sudah sering bertemu dengan seseorang, bukan berarti kamu mengenal orang itu dan dapat mempercayainya. Percayalah kepada kata hatimu. Bila kamu merasa takut atau tidak nyaman bersama seseorang, segera menghindar. Tidak perlu berbicara dengan orang itu.
  • Bila ada seseorang minta petunjuk menuju suatu tempat, ingatlah bahwa orang itu harusnya bertanya kepada orang dewasa, bukan seorang anak seperti dirimu. Katakan bahwa kamu tidak tahu dan segera menghindar.
  • Bila seseorang memintamu untuk mengantarkannya ke suatu tempat, katakan bahwa kamu tidak tahu tempat itu dan jangan mau ikut dengannya
  • Jangan menerima makanan, minuman atau hadiah lainnya dari orang yang tidak kamu kenal, walaupun orang itu mengatakan bahwa hadiah itu gratis atau ia akan kecewa dan sedih bila kamu tak mau menerimanya.
  • Bila kamu merasa seseorang mengikutimu, usahakan untuk menghindar, dan ceritakan kejadian itu kepada orang tua, guru atau orang dewasa lain yang dapat dipercaya.
  • Bila seseorang yang tidak kamu kenal menawarkan untuk mengantarkanmu, katakan “Tidak, terima kasih,” dengan sopan.
  • Bila seseorang memaksamu untuk ikut dengannya, segera menghindar dan berteriak untuk menarik perhatian orang lain. Katakan, “Bapak atau ibu ini memaksa saya ikut. Dia bukan orang tua saya.”

TIPS KEAMANAN ANAK DI SEKOLAH

Sebagai orang tua, kita ingin anak-anak kita selalu aman dan selamat. Ajarkan anak-anak tip untuk menjaga keamanan ketika berangkat dan pulang dari sekolah berikut ini:

  • Berjalan atau bersepeda ke sekolah bersama teman.
  • Menumpang bis atau kendaraan umum lain bersama teman-teman
  • Berjalanlah di trotoar atau pinggir jalan dan perhatikan kendaraan di sekitarmu.
  • Selalu menyeberang jalan di tempat penyeberangan atau jembatan penyeberangan. Jangan lupa untuk melihat ke kanan dan kiri dan pastikan jalan aman, sebelum menyeberang.
  • Jangan mengobrol berlebihan atau bercanda ketika berjalan bersama temanmu.
  • Bila ada orang yang mengganggu ketika kamu pergi atau pulang dari sekolah, segera menghindar. Ceritakan kejadian itu kepada guru atau orang tua
  • Bila orang tua selalu mengantar dan menjemputmu, Tunggulah orang tua menjemput di lingkungan sekolah.
  • Jangan  pulang sendiri bila orang tua terlambat menjemput.
  • Bila orang tua sangat terlambat menjemput. Cari guru atau karyawan sekolah yang lain, dan minta mereka menghubungi orang tuamu.

Sumber gambar : www.merdeka.com