Pentingnya Melatih Konsentrasi Anak di Zaman Digital

Gangguan Zaman Sekarang Lebih Banyak

Di zaman serbadigital ini, lazim kita melihat seorang anak yang asyik mengutak-atik tablet. Pemandangan ini sering kita lihat di tempat-tempat umum. Kalau dulu orang masih menganggap perangkat digital hanya bisa dipakai orang dewasa, kini anak-anak semakin mudah mengakses komputer, tablet, atau smartphone.

Lewat perangkat digital tersebut anak bisa mengasah kreativitas. Di Barat, perangkat digital semacam itu sudah umum dipakai di kelas. Anak-anak bisa belajar dengan berkolaborasi dan menggunakan koneksi internet yang memang memungkinkan sekali jika memakai perangkat tersebut. Namun, saat mengerjakan tugas secara online, anak cenderung sulit berkonsentrasi. Di lain pihak, berlatih konsentrasi itu penting. Penelitian menunjukkan bahwa jika anak tidak berlatih konsentrasi dan tidak belajar menyingkirkan gangguan (distraction), mereka akan jauh lebih sulit untuk berhasil di hampir setiap bidang.

Daniel Goleman, seorang psikolog dan pengarang banyak buku mengenai pembelajaran sosial dan emosional mengatakan bahwa di zaman digital ini manusia dihadapkan pada gangguan yang lebih banyak dibandingan masa-masa sebelumnya. Karena itu, sebetulnya kita dituntut untuk lebih mengembangkan keterampilan memusatkan perhatian. Yang justru lebih dikhawatirkan adalah anak-anak. Mengapa? Karena organ tubuh yang paling akhir matang secara anatomi adalah otak. Otak terus berkembang sampai manusia berumur pertengahan 20 tahunan. Jika sistem jaringan syaraf anak tidak berkembang, padahal hal itu sangat dibutuhkan untuk memusatkan perhatian, nantinya mereka akan menghadapi masalah dalam mengendalikan emosi dan kurang bisa berempati.

Jaringan Otak untuk Konsentrasi Perlu Dilatih

“Jaringan syaraf yang dibutuhkan untuk memusatkan perhatian identik dengan jaringan syaraf untuk mengelola emosi yang menimbulkan stres,” kata Goleman. Bagian otak yang menentukan dalam fungsi fokus dan menentukan keputusan disebut sebagai korteks prefrontal. Bagian otak ini juga memungkinkan seseorang mengendalikan diri, menguasai emosi, dan merasakan empati kepada orang lain.

“Jaringan otak yang meningkatkan daya tangkap perlu diberi latihan konsentrasi. Contohnya: membaca teks, memahami dan menyimak ucapan guru. Hal ini dibutuhkan sebagai sarana untuk menjadi seorang pembelajar,” lanjut Goleman. Dia menyarankan “puasa digital” bagi anak setiap hari, misalnya selama pukul 7 pagi sampai 5 sore anak tidak boleh memakai perangkat digital sama sekali. Baik juga jika sekolah memasukkan latihan perhatian-penuh dalam kurikulum.

Kemampuan Konsentrasi Sebagai Kunci Sukses

Kemampuan untuk bisa fokus merupakan bagian dari kunci sukses yang kerap kali diabaikan. “Semakin kita bisa berkonsentrasi, kita bisa lebih sukses dalam hal apa pun. Meskipun kita punya berbagai talenta, talenta itu tidak akan terpakai jika banyak gangguan yang membombardir kita,” kata Goleman. Dia menunjukkan bahwa suatu kali pernah dilakukan suatu riset terhadap atlet. Mereka diberi tes konsentrasi. Hasilnya secara akurat dapat memprediksi sejauh mana keberhasilan masing-masing atlet tersebut ketika tampil keesokan harinya.

Penelitian tentang konsentrasi yang terkenal adalah penelitian jangka panjang yang dilakukan terhadap 1.000 anak di Selandia Baru oleh Terrie Moffitt dan Avshalom Caspi, seorang profesor bidang psikologi dan ahli syaraf di Duke University. Penelitian itu menguji anak-anak yang lahir tahun 1972 dan 1973 secara rutin selama delapan tahun. Mereka diuji kemampuannya dalam memperhatikan dan mengabaikan distraksi. Selanjutnya para periset mengikuti jejak anak-anak tersebut sampai usia 32 tahun untuk melihat seberapa jauh keberhasilan mereka. Diketahui bahwa kemampuan mereka untuk berkonsentrasi menjadi penentu terbesar dalam kesuksesan.

“Kemampuan ini jauh lebih penting daripada IQ atau status sosial ekonomi keluarga dalam menentukan kesuksesan karier, kesuksesan finansial, dan kesehatan seseorang,” ujar Goleman.

Yang menjadi keprihatinan dan patut diwaspadai adalah kini semakin banyak anak yang tidak bisa lepas dari perangkat digital meskipun sejenak saja. Mereka seperti sudah kecanduan. Guru-guru mengatakan bahwa kini anak kesulitan memahami teks yang oleh generasi sebelumnya bisa dipahami dengan mudah. Tanda-tanda ini perlu diperhatikan oleh para pendidik. Mereka harus melatih anak agar mampu memperhatikan dan menyimak.

“Yang perlu ditekankan adalah kemampuan untuk fokus,” kata Goleman. Dia tidak menampik kegunaan perangkat digital di masyarakat zaman sekarang. Namun, dia juga menegaskan bahwa jika kita tidak mengatur penggunaan perangkat tersebut bagi anak-anak dengan lebih baik, maka anak tidak akan pernah mengasah keterampilan dalam memusatkan perhatian. Padahal keterampilan itu akan sangat mereka butuhkan dalam meraih kesuksesan jangka panjang. “Jika anak-anak bisa fokus secara alami, mereka akan lebih mampu memakai perangkat digital sebagai mana mestinya dan memakainya dengan cara yang menyenangkan.”

Kemampuan Multitugas Meningkatkan Kesuksesan?

Sebagian orang mengatakan bahwa generasi anak-anak zaman sekarang yang ketika tumbuh besar sudah akrab dengan perangkat digital lebih bagus kemampuannya dalam multitugas. Namun, gagasan tentang multitugas itu hanyalah mitos, menurut Goleman. Ketika seseorang mengatakan dirinya adalah seorang yang mampu menjalankan beberapa tugas sekaligus, sebenarnya yang terjadi adalah “terpecahnya perhatian yang berlangsung terus-menerus.” Saat itu otak bolak-balik menaruh perhatian pada tugas-tugas yang ada. Masalahnya adalah, ketika perhatian murid terpecah antara mengerjakan pekerjaan rumah dan membaca SMS, mengecek status di sosial media, atau chatting, maka kemampuan mereka untuk fokus pun menjadi berkurang. Hal itu akan sangat mempengaruhi anak untuk memahami konsep baru secara mendalam.

Pemakaian Perangkat Digital Secara Bijak

Goleman mengatakan bahwa musuh utama saat ini bukan perangkat digital. Yang perlu kita lakukan adalah memastikan bahwa generasi anak-anak saat ini memiliki kemampuan untuk berkonsentrasi dan memperhatikan suatu hal. Dua kemampuan tersebut dulu secara alami dimiliki oleh generasi sebelumnya yang belum terpapar oleh perangkat digital.

Tugas kita sebagai pendidik dan orang tua kini adalah bagaimana mengajari anak-anak memakai perangkat digital secara cerdas. Dengan begitu, anak tetap memiliki kemampuan untuk berkonsentrasi mana kala kita membutuhkan dan menginginkannya.

Tulisan ini diadaptasi dari tulisan Katrina Schwartz, “Age of Distraction: Why It’s Crucial for Students to Learn to Focus”

Seminar & Talkshow Parenting

Seminar Sekolah Ibu S

KB – TK Kinderfield 2013

Seminar JFM 21 Sept 13

JFM 21 September 2013

IMG-20140202-00785

GBKP Graha Harapan 2 Februari 2014

Ibu Andyda MDO

 Mom Dad & I 15 Juni 2014

Andyda APSAI

Asosiasi Perusahaan Sahabat Anak Indonesia 24 Juni 2014

20140806_113557

PT. Astra International Tbk

IMG-20141120-00371

 SINDO 20 November 2014

IMG_28092014_120640

 GBKP Depok 28 September 2014

Parenting Program WVI

WVI – Waingapu 12 Desember 2014

Ibu Emil

Bp Henky

Perhutani 29 Maret 2015

IMG_0835

IMG_0840

IMG_0860

GBKP Depok 12 April 2015

 Parenting Kelompok Parents, SMU – SMP, dan SD

GBKP Depok

           GBKP Depok 18 April 2015 – Sharing menghadapai UN SD & SMP

Seminar, Training, Talkshow Guru

NCTC

National Christian Teacher Conference

APSAI 19Seminar Guru di Asosiasi Perusahaan Sahabat Anak Indonesia

Seminar Guru PAUD RPI 18 Oktober 2014

Training Guru Oktober 2014

photo 5

Training Guru November 2014

DSC_0030

Training Guru Desember 2014

IMG_1969

Training Guru Januari 2015

DSC_0258

Bersama 1

Training Dasar Guru 6- 8 Februari 2015

IMG_20150327_112426

IMG_20150328_090519

DSC_0066

Kelas Meditasi bersama Bening Lara

DSC_0426

Training Dasar Guru 27 – 29 Maret 2015

Workshop Guru Sumatera Utara

Training PAUD GBKP Okt 02

Workshop Guru Sumatera Utara 22 – 25 Maret 2013

Tigapanah-20130618-00632

Workshop Guru Sumatera Utara 16 – 18 Juni 2013

Training PAUD GBKP 6 Okt 2013

Workshop Guru Sumatera Utara 4 -6 Oktober 2013

Peserta & Trainer Workshop Guru PAUD 26-28 Juni 14

Workshop Guru Sumatera Utara  26 – 28 Juni 2014

Workshop 11

Workshop Guru Sumatera Utara 19 -21 Februari 2015

 

TIPS KEAMANAN ANAK : MENGHADAPI ORANG TIDAK DIKENAL

Salah satu hal yang sangat penting untuk diajarkan kepada anak-anak adalah bagaimana menghadapi orang yang tidak dikenal. Kadang-kadang anak-anak menganggap sudah kenal dengan seseorang yang sering ditemuinya dan orang itu besikap ramah kepada mereka.

 Ajarkan anak-anak menjaga keamanan dengan tip berikut ini:

  • Walaupun kamu sudah sering bertemu dengan seseorang, bukan berarti kamu mengenal orang itu dan dapat mempercayainya. Percayalah kepada kata hatimu. Bila kamu merasa takut atau tidak nyaman bersama seseorang, segera menghindar. Tidak perlu berbicara dengan orang itu.
  • Bila ada seseorang minta petunjuk menuju suatu tempat, ingatlah bahwa orang itu harusnya bertanya kepada orang dewasa, bukan seorang anak seperti dirimu. Katakan bahwa kamu tidak tahu dan segera menghindar.
  • Bila seseorang memintamu untuk mengantarkannya ke suatu tempat, katakan bahwa kamu tidak tahu tempat itu dan jangan mau ikut dengannya
  • Jangan menerima makanan, minuman atau hadiah lainnya dari orang yang tidak kamu kenal, walaupun orang itu mengatakan bahwa hadiah itu gratis atau ia akan kecewa dan sedih bila kamu tak mau menerimanya.
  • Bila kamu merasa seseorang mengikutimu, usahakan untuk menghindar, dan ceritakan kejadian itu kepada orang tua, guru atau orang dewasa lain yang dapat dipercaya.
  • Bila seseorang yang tidak kamu kenal menawarkan untuk mengantarkanmu, katakan “Tidak, terima kasih,” dengan sopan.
  • Bila seseorang memaksamu untuk ikut dengannya, segera menghindar dan berteriak untuk menarik perhatian orang lain. Katakan, “Bapak atau ibu ini memaksa saya ikut. Dia bukan orang tua saya.”

TIPS KEAMANAN ANAK DI SEKOLAH

Sebagai orang tua, kita ingin anak-anak kita selalu aman dan selamat. Ajarkan anak-anak tip untuk menjaga keamanan ketika berangkat dan pulang dari sekolah berikut ini:

  • Berjalan atau bersepeda ke sekolah bersama teman.
  • Menumpang bis atau kendaraan umum lain bersama teman-teman
  • Berjalanlah di trotoar atau pinggir jalan dan perhatikan kendaraan di sekitarmu.
  • Selalu menyeberang jalan di tempat penyeberangan atau jembatan penyeberangan. Jangan lupa untuk melihat ke kanan dan kiri dan pastikan jalan aman, sebelum menyeberang.
  • Jangan mengobrol berlebihan atau bercanda ketika berjalan bersama temanmu.
  • Bila ada orang yang mengganggu ketika kamu pergi atau pulang dari sekolah, segera menghindar. Ceritakan kejadian itu kepada guru atau orang tua
  • Bila orang tua selalu mengantar dan menjemputmu, Tunggulah orang tua menjemput di lingkungan sekolah.
  • Jangan  pulang sendiri bila orang tua terlambat menjemput.
  • Bila orang tua sangat terlambat menjemput. Cari guru atau karyawan sekolah yang lain, dan minta mereka menghubungi orang tuamu.

Sumber gambar : www.merdeka.com

Tips mengajarkan karakter – Cinta Tanah Air

Mengajarkan Cinta tanah air kepada anak-anak dapat dilakukan antara lain dengan:

  • Menceritakan tentang Hari Kemerdekaan
  • Menjelaskan tentang bendera negara kita
  • Menceritakan tentang pahlawan dan sejarah
  • Menceritakan tentang para pemimpin negara dan apa yang mereka lakukan untuk negara
  • Mendiskusikan apa cita-cita anak-anak dan apa yang dapat mereka lakukan untuk negara
  • Menceritakan kekayaan alam Indonesia
  • Mendiskusikan apa yang anak-anak banggakan sebagai orang Indonesia

Tips mengajarkan anak menghargai orang lain

Tunjukkan bahwa Anda menghargai anak

  • Tunjukkan rasa hormat kepada anak seperti yang Anda harapkan darinya. Bila Anda tidak ingin anak berbicara kasar, membentak atau berteriak kepada Anda atau orang lain, berbicaralah dengan sopan kepada anak Anda.
  • Ketika berbicara kepada anak, tunjukkan bahwa Anda mendengarkan dengan baik dan menaruh perhatian pada apa yang dikatakannya. Hentikan aktivitas Anda sejenak untuk mendengarkan anak.

Ajarkan sopan santun

Sopan santun menunjukkan anak menghargai orang lain. Ucapan seperti ‘tolong’, ‘terima kasih’, ‘maaf’, ‘permisi’ perlu dipelajari dan dilakukan anak sejak dini, Ucapkan kata ‘tolong’ ketika meminta anak melakukan sesuatu dan ucapkan ‘terima kasih’ sesudahnya.  Ucapkan ‘maaf’ bila Anda ingin menyela pembicaraan orang lain. Ajarkan anak mengucapkan ‘permisi’ ketika melewati tempat sempit dimana ada orang lain di sana. Ucapkan ‘maaf’ ketika misalnya Anda tidak sengaja  menabrak seseorang.  Contoh yang Anda berikan sehari-hari akan mengajarkan anak juga melakukannya.

Jangan masukkan ke hati

Anda tidak perlu marah atau kecewa ketika anak mengucapkan sesuatu yang kasar kepada Anda atau temannya. Yang sering terjadi adalah anak tidak tahu arti perkataannya dan hanya menirukan yang didengarnya dari orang lain. Atau anak sengaja memancing perhatian Anda dengan perilaku kurang baik.   Anda dapat mengajak anak berbicara tatap muka. Katakan dengan tenang, “Yang kamu katakan  tadi tidak baik. Kita tidak berbicara dengan cara seperti itu. Kalau kamu membutuhkan sesuatu, kamu dapat mengatakannya dengan sopan.”

Menghargai lingkungan sekitar

Menghargai lingkungan sekitar misalnya :

  • Mengikuti peraturan.
  • Membuang sampah di tempatnya.
  • Mengembalikan barang ke tempatnya
  • Menunggu giliran dengan sabar

Bicarakan dengan anak-anak

Mengajarkan karakter membutuhkan pengulangan agar tertanam pada diri anak-anak. Gunakan setiap kesempatan untuk mengajarkan karakter. Gunakan cerita yang sesuai. Tunjukkan orang-orang yang berperilaku sesuai karakter yang ingin Anda ajarkan.  Tetapi jangan membandingkan anak dengan orang lain, misalnya mengatakan, “Anak itu sopan, tidak seperti kamu.”

Pujian

Salah satu cara ampuh membentuk karakter anak adalah memuji perilaku anak. Pujilah anak ketika ia mengucapkan tolong dan terima kasih, mengembalikan mainan ke rak dsb

About Us

Resourceful Parenting Indonesia (RPI) didirikan oleh Andyda Meliala pada tanggal 7 Maret 2011, bergerak di bidang parenting berdasarkan kecerdasan majemuk, perkembangan dan  plastisitas otak. RPI menyediakan informasi  dan pengetahuan untuk memberdayakan orang tua dan anak  Indonesia .

Visi

Setiap orang dewasa memiliki sumber pengetahuan untuk membesarkan dan mendidik anak.

Misi :

Membekali orang dewasa dengan berbagai sumber pengetahuan yang memadai untuk mendampingi pertumbuhan pikiran, jasmani, dan rohani anak secara terintegrasi.

Sasaran :

  • Semua orang dewasa di sekitar anak : orang tua biologis, calon orang tua, nenek/kakek, paman/bibi, anggota keluarga lainnya, pengasuh bayi dan anak, guru/pendidik, pelatih.
  • Anak-anak

Aktivitas RPI

o Fasilitator

  • Seminar, training dan workshop
  • Sertifikasi

o Penerbitan buku

  • Successful Parenting – 41 Tip Mencetak Anak Cerdas Berkarakter
  • Cara Cerdas Mengatasi Konflik dan Kenakalan Anak.
  • Aku Bisa Menulis – hasil tulisan murid-murid SD Swasta Masehi Sibolangit dengan kata pengantar dari alumnus SD itu sendiri, Prof.dr.KRT Lucas Meliala, Sp.S(K),Sp.Kj

o Media Cetak,

Menulis artikel yang dimuat di beberapa media cetak seperti Harian Bernas Yogyakarta, tabloid Soramido Medan dan tabloid Maranatha.

o Media Sosial

Membagikan informasi parenting melalui internet kepada masyarakat luas dengan materi utama tips parenting, cerita anak dan aktivitas anak.

  • Blog
  • Website
  • Facebook
  • Twitter
  • Kompasiana

o Konsultasi Parenting

RPI memberikan pelayanan konsultasi parenting melalui telepon dan tatap muka serta tanya jawab melalui blog dan web.

o Perpustakaan

  • Percaya bahwa masyarakat yang haus membaca adalah masyarakat yang berilmu dan lebih maju, RPI membuka perpustakaan untuk mendekatkan buku kepada masyarakat, terutama anak-anak. Program ini didukung oleh Prof.dr.KRT Lucas Meliala, Sp.S(K),Sp.Kj dan banyak donatur lain dengan donasi berupa buku, bangunan perpustakaan dan rak buku. RPI telah mendukung pengadaan buku untuk lebih dari 40 perpustakaan.
  • Kerja sama dengan Books For Indonesia (BFI)

BFI adalah lembaga non profit yang berpusat di Chicago, Amerika Serikat yang membagikan buku kepada masyarakat Indonesia. RPI dan BFI bekerja sama dalam pengadaan dan penyaluran buku untuk beberapa perpustakaan dan komunitas membaca di Indonesia.

o Pelatihan guru-guru PAUD

  • RPI memberikan pelatihan untuk guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Dalam pelatihan, diberikan materi yang berhubungan langsung dengan proses belajar mengajar di PAUD, juga materi parenting, motivasi dan pengembangan kecerdasan anak.
  • Sertifikasi Guru

o Kurikulum PAUD

 RPI menyusun Kurikulum (Rencana Kegiatan Harian) untuk PAUD. Kurikulum disusun untuk usia 0-7 tahun berdasarkan kecerdasan majemuk dan berfokus pada kecerdasan emosional dan pengembangan karakter.

Kurikulum Guru

Kurikulum Orang Tua

o Pendidikan Usia Dini, RPI membuka lembaga pendidikan dengan jenjang Day Care, Kelompok Bermain (KB) dan Taman Kanak-Kanak (TK)

o Mengundang guru untuk studi banding

o Lomba menulis

o Pelatihan menulis

o Pemberian beasiswa

 

Mengapa RPI berbeda?

RPI mempunyai keunggulan:

  1. Akumulasi pengalaman lebih dari 50 tahun dari para fasilitator di bidang parenting, pengajaran dan pengembangan kurikulum pendidikan usia dini di 4 negara (Indonesia, Philipina, Amerika, dan Australia).
  2. Menyediakan berbagai sumber pengetahuan untuk mendampingi pertumbuhan pikiran, jasmani, dan rohani anak secara terintegrasi dengan berbagai metode dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat melalui berbagai sarana. (media sosial, program parenting, seminar, training,  kurikulum usia dini, konsultasi, perpustakaan, penerbitan buku parenting).
  3. Menjalin kerjasama dengan berbagai pihak untuk memenuhi kebutuhan parenting di Indonesia dan mencapai visi perusahaan.

 

Kultur Perusahaan

  1. Kerjasama, Mengutamakan tujuan bersama dan menjalin kerja sama yang saling menguntungkan dengan semua pihak.
  2. Tanggungjawab, Bertanggung jawab atas semua tindakan dan konsekuensi yang terjadi dari tindakan.
  3. Kepemimpinan, Mengambil insiatif, menetapkan tujuan dan membuat rencana untuk mencapai tujuan tersebut, serta membuat seluruh tim terkait dan mitra melaksanakannya dengan antusias.
  4. Integritas, Menjalankan sesuai dengan yang diucapkan.
  5. Fokus, Fokus pada tujuan RPI untuk mengutamakan kemajuan dan perkembangan mitra secara utuh dengan memberikan berbagai dukungan yang diperlukan.
  6. Pembelajar, Senantiasa haus ilmu, secara proaktif mencari sumber-sumber pembelajaran yang mendukung, dan mengevaluasi untuk memperbaiki diri.
  7. Inovatif, Menggunakan cara-cara baru dalam mengembangkan dan menyampaikan materi pembelajaran dapat melibatkan mitra secara aktif dalam proses belajar.

 

Mitra kerja RPI :

  1. Relawan & donatur dari berbagai daerah seluruh Indonesia
  2. Fasilitator
  3. Pemda DKI
  4. Badan Koordinasi Keluargan Berencana Nasional (BKKBN)
  5. Ikatan Peminat, Praktisi, dan Ahli Parenting Indonesia (IPPAPI)
  6. Asosiasi Perusahaan Sahabat Anak Indonesia (APSAI)
  7. United Nations Children’s Fund (UNICEF)
  8. Asian Development Bank (ADB)
  9. United Nations Office For The Coordination of Humanitarian Affairs (UN-OCHA)
  10. World Vision Indonesia (WVI)
  11. Majelis Pendidikan Kristen (MPK)
  12. Reach Out Foundation (ROF)
  13. Jaringan Pelayanan Anak (JPA)
  14. Book For Indonesia (BFI)
  15. Cinta Baca Cinta Lingkungan (CBCL)
  16. Cara Baik Indonesia (CBI)
  17. Komunitas Rumah Pencerah (KRP)
  18. Kartika Soekarno Foundation (KSF)
  19. Yayasan Peduli Konseling
  20. Yayasan Bunga Merpati
  21. Tim PAUD GBKP
  22. Jilena Forum Melias (JFM)
  23. Astra International Tbk
  24. Asuransi Astra Buana
  25. PT. Daya Dimensi Indonesia (DDI)
  26. Action Coach
  27. Coachnesia
  28. DAAI TV
  29. Kompas TV
  30. MNC News
  31. Berita Satu
  32. Sesame Street Indonesia / Jalan Sesama
  33. Majalah Mom Dad & I
  34. Koran Sindo
  35. Kompas Female
  36. Penerbit ANDI
  37. Harian Bernas, Tabloid Maranatha, Tabloid Sora Mido

Target

Menjangkau secara luas, mudah diakses dan dapat melibatkan setiap orang dewasa Indonesia yang berkewajiban mendampingi pertumbuhan anak

Kontak :

  1. Email            : resourcefulparenting@gmail.com
  2. Website        : www.resourceful-parenting.com ; www.rpindonesia.com
  3. Blogspot,      : www.resourceful-parenting.blogspot.com
  4. Facebook      : Resourceful Parenting
  5. Twitter          : @parentingpintar
  6. Alamat          : Ruko Bintaro Persada Blok B3, Jl. RC. Veteran no 66, Bintaro, Jakarta Selatan.
  7. HP                 :

             –  Theia 0811.980.8356 untuk perorangan/perusahaan/bank

             –  Emily  0878.3367.8880 untuk kantor/instansi

Layanan Kami

Resourceful Parenting Indonesia (RPI) didirikan oleh Andyda Meliala pada tanggal 7 Maret 2011, bergerak di bidang parenting berdasarkan kecerdasan majemuk, perkembangan dan plastisitas otak. RPI menyediakan informasi  dan pengetahuan untuk memberdayakan orang tua dan anak  Indonesia.

Adapun layanan yang kami sediakan antara lain:

  1. Konsultasi Parenting
  2. Program Parenting : Seminar, Workshop, Talkshow
  3. Training Guru
  4. Training Pendamping Guru
  5. Training Koordinator Day Care
  6. Training Pendamping Day Care
  7. Training Fasilitator Guru
  8. Training Fasilitator Parenting
  9. Sertifikasi Guru
  10. Sertifikasi Pendamping Guru
  11. Sertifikasi Koordinator Day Care
  12. Sertifikasi Pendamping Day Care
  13. Sertifikasi Fasilitator Guru
  14. Sertifikasi Fasilitator Parenting
  15. Coaching
  16. Konsultasi Manajamen dan pembuatan Day Care, Kelompok Bermain (KB), dan Taman Kanak-Kanak (TK)
  17. Workshop untuk anak dan remaja
  18. Alat Peraga Edukatif (APE)
  19. Kurikulum Day Care, KB, dan TK
  20. Kurikulum Guru
  21. Kurikulum Parenting
  22. Manajemen Instistusi
  23. Distribusi buku dan pendirian perpustakaan
  24. Penerbitan buku

Anda berminat? Atau ingin mendapatkan informasi lebih lanjut?

Silakan hubungi  :